Sunday, December 18, 2011

Monday, December 5, 2011

Soal lomba Toefl

Copy of soal-toefl-olimpiade -1-.rar

Dewasa

Pagi hari minggu yang sejuk, Rita melihat ayahnya yang sedang membaca Koran di ruang tamu. Ia melihat ayahnya senyum senyum sendiri, karena penasaran rita bertanya

“Ayah, kok ayah senyum senyum sendiri? Ada berita apa yah di Koran?”

“Ini berita kelulusan anak SMA.”

“Ayah ikut senengnya kok sampe segitu yah? Kan itu bukan berita kelulusannya anak ayah ato keluarga ayah..”

“Ya ayah inget aja waktu dulu ayah masih muda , ayah berlebihan saat menyikapi hal seperti ini..”

“Berlebihan gimana yah?”

“Ayah dulu sampai bertengkar sama kakek minta dilesin soalnya pingin lulus padahal dulu kakek nggak punya uang soalnya kakek kerjanya mburuh

“Itu kan cerita sedih yah .. kok ayah malah senyum senyum?”

“Ya nanti kamu pasti tau kenapa ayah sekarang senyum-senyum sendiri kalo ayah inget masalah ayah.”

“nanti kapan yah?”

“saat kamu dewasa”

“Kapan aku dewasa yah?”

“Itu semua tergantung kamu dek..”

“Kok bisa yah? Emang dewasa itu apa yah?”

“Dewasa itu ketika kamu sudah bisa menertawakan masalahmu di masa lalu. Dan kenapa kedewasaanmu tergantung pada dirimu sendiri, itu karena kecepatan pendewasaanmu tergantung pada sikapmu dalam mengambil hikmah dalam setiap masalah, semua orang pasti dewasa, tapi semuanya tergantung pada orang itu sendiri.”

“Tapi kenapa kok tandanya harus tertawa pada masalah yah?”

“Karena pada saat kamu tertawa kamu mengerti bahwa kamu telah bertindak bodoh dan menyulitkan diri kamu sendiri, dulu kamu sedih karena kamu melihat masalah yang kamu hadapi itu sangat besar, dan saat kamu dewasa kamu sadar bahwa masalah yang kamu hadapi itu hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan masalah-masalah lain yang nanti kamu hadapi saat kamu udah besar dan ternyata banyak orang yang harus menghadapi masalah yang besar.”

“Berarti ayah sekarang udah dewasa dong?”

“Menurut kamu?”

“Yah, tapi apa sih yah hikmah dari masalah ayah yang tadi?”

“Ayah harus marah sama kakek, orang yang berjasa membesarkan ayah dan merawat ayah dari kecil hanya karena takut nggak lulus padahal tanpa les ternyata ayah juga bisa lulus. Ayah malu , ayah harus bertindak yang nggak seharusnya ke orang yang paling berjasa di hidup ayah. Ayah tersenyum karena ayah malu dengan kesalahan ayah waktu itu dank arena merasa beruntung ayah bisa mengambil hikmah dari masalah ayah. Untung kakek itu orang yang sabar dan mau maafin ayah “

“Ayah ngomongin kakek terus, aku jadi kangen.. ke rumah kakek yok yah..”

“Yaudah kamu mandi dulu sana.. masa ke rumah kakek baunya asem..”

Rita pun beranjak dari ruang tamu menuju kamar mandi meninggalkan ayahnya yang masih senyum –senyum di depan korannya, entah hikmah apalagi yang ayahnya dapatkan kali ini..

***

ketika aku sakit

Sore itu, Nia berguling – guling di kasur kamarnya menahan sakit di perutnya yang seperti ditusuk tusuk dengan tongkat. Ia menunggu seseorang untuk datang di rumahnya agar ia dapat mengadukan sakitnya. Pukul 5 sore tepat.. Ibunya datang.. ia merasa sangat lega melihat ibunya.. ia mengerti ibunya terlihat sangat lelah.. tapi karena ia menahan kesakitan yang amat sangat, ia terlalu sakit untuk peduli dengan keadaan ibunya..

“Ibu, perutku sakit, aku mual dan pusing bu.”

“Mana yang sakit?”

“Sini bu..”

“Kamu sih, selama ini kalo dibilangin ibu nggak mau dengerin. Gini kalo kamu sakit yang susah juga ibu. Ibu sekarang udah repot banyak kerjaan kamu malah sakit. Makanya punya badan itu dijaga jangan seenaknya sendiri. Kamu gak kasian sama ibu ya? Udah capek capek pulang kerja masih harus mikirin kamu sakit gini”

Nia hanya tertunduk terdiam dan kembali ke kamar... ia mulai menangis sesenggukkan ketika kepalanya sudah mendarat di bantal – bantal merah yang ada di kasurnya. Sejenak kemudian ibu masuk ke kamar Nia

“Udah! Ayo sekarang ke dokter..”

Nia hanya menuruti kata ibunya dan pergi ke dokter bersama ibunya... saat di ruang periksa,

dokter Ridwan begitulah namanya, bertanya pada Nia,” Adek sakit apa?”

“Nggak tau dok. Tapi perut saya yang bagian atas sakit sama bawah dada sini juga sakit. Aku juga mual sama pusing dok..”

“Adek suka telat makan?”

“Iya dok”

lalu ibu menyahut,” Nia anaknya nggak suka makan dok. Kalo makan sedikit sedikit katanya takut gemuk pengennya langsing. Sama istirahatnya nggak teratur soalnya dia udah fanatik sama bintang bintang korea itu.. saya udah marahin berkali-kali tapi anaknya gak mau denger. Coba deh dokter nasihatin dia.. kalo saya yang bilang dia gak percaya.. tetep seenaknya aja..”

Nia hanya terdiam.. dan berikutnya Dokter Ridwan yang bicara panjang lebar menasihati Nia.

Setelah itu Nia dan ibunya pulang.

“Dek, Ibu pergi dulu ada pengajian. Obatnya cepet diminum sama tadi nasihatnya dokter didengerin!”

“Iya”

Setelah ibunya pergi, Nia segera makan dan minum obat, kemudian ia masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian ia tidur.

Ketika ibunya datang, ia pergi ke kamar Nia. Melihat apakah anaknya itu sudah tidur atau belum, melihat anaknya tertidur pulas di bawah selimut merah mudanya, Ibu Nia beranjak pergi dari kamar Nia. Namun, niatnya itu ia urungkan ketika melihat buku biru muda kecil terbuka di meja belajar Nia. Nia pasti terlalu mengantuk sehingga lupa untuk menutup buku diary rahasianya ini, begitu pikirnya. Karena penasaran, ia membaca lembar terakhir yang ditulis oleh Nia..

“Ibu sayang, ketika aku sakit, aku nggak minta apa-apa. Aku cuman minta ibu ada disebelahku dan nemenin aku, kehadiran ibu udah obat buat aku. Aku tau ibu, aku salah. Makanku nggak teratur, tapi itu semua bukan karena aku ingin langsing bu.. ibu tau sendiri aku nggak pernah ngomong kayak gitu ke ibu. Aku juga pengen punya badan yang sehat dan tinggi nggak melulu kerempeng gini jadi gampang dibully sama teman-temanku. Dan ketika aku stay overnight, aku nggak hanya ngehabisin waktuku buat nonton video koreaku bu. Aku belajar 4 jam dan nonton setengah jam untuk ngilangin penatku karena belajarku.. tapi ibu nggak tau itu karena ibu sibuk dan ketika sampai di rumah ibu udah capek.. Aku nggak pingin nyalahin ibu karena itu, karena aku sendiri juga tau kalo ibu nglakuin itu demi aku.. yang kuharapkan cuman Ibu ada saat aku sakit dan ibu nggak bilang yang nggak nggak ke orang lain bu.. aku takut kalo aku ngomong ini ke ibu , ibu akan marah.. jadi setelah aku nulis ini di diaryku, aku nggak akan marah sama ibu lagi. Aku berharap semoga ibu nggak ngerti kemarahanku ini, aku nggak pengen ibuku sayang yang capek keganggu sama emosi labilku.. maaf ya bu.. aku sayang ibu.. makasih jadi ibuku.. “ lalu ibu melihat tanda smile dan love di ujung bawah kertas itu. Tanpa sadar ternyata ibu sudah menangis, namun ia menahan sesenggukkannya karena takut membangunkan anaknya. Ia melihati buku biru muda itu sebentar, memegang bolpen dan menuliskan sesuatu di lembar sebelah tempat Nia menulis curhatnya. Kemudian ibu mencium kening Nia, merapatkan selimutnya dan meninggalkan kamar Nia.

Pukul 03.00, Nia sudah terbangun. Mungkin karena ia juga tidur lebih cepat kemarin malam. Saat matanya masih setengah terbuka, ia melihat diarynya terbuka. Ia sangat takut kalau kalau diarynya dibaca ibunya jadi segera saja ia mengambil buku itu. Namun ketika ia akan menutup buku itu, ia mengenali tulisan ibunya di sebelah tulisannya..

“Maaf ya adek sayang.. Ibu nggak pernah bermaksud untuk melakukan itu.. Mungkin kemarin ibu terlalu capek sehingga ibu emosi waktu kamu bilang kalo kamu sakit. Sebenernya ibu gitu karena ibu sayang adek , ibu langsung emosi denger anak kesayangan ibu sakit. Tapi ibu mungkin salah ya waktu ngekspresiin perasaan ibu? Maaf ya adek sayang.. tapi ibu emang nggak suka lo sama kebiasaan adek yang suka makan telat sama nonton korea malem-malem. Mulai sekarang makannya harus tepat waktu sama kalo belajar jangan lama – lama, 2 jam aja.. nggak usah sampe 4 jam.. kasian badan adek kalo adek kaya gitu.. terus nonton koreanya hari sabtu sama minggu aja ya? Nanti ibu temenin .. Ibu sayang adek..”

Nia menitikkan air mata melihat tulisan ibunya, ia segera pergi ke kamar ibu dan melihat ibunya masih terlelap dan masih tampak lelah. Nia mengusap keringat yang ada di dahi ibu kemudian memeluk ibunya erat-erat dan berbisik di telinga ibu, “Bu, aku sayang Ibu...”

Ibu terbangun mendengar suara samar samar Nia dan menjawab Nia dalam keadaan setengah terbangun, “Ibu juga sangat sayang sama adek..”

***