Thursday, October 3, 2013

I am a child

I am a child
A naive and paranoid child
I am a child
That kind of foolish
I am a child
I am afraid of people, they can hurt me
I want to challenge the world , but they scare me
I learn , like a victim
I learn, but I’m not being more than just nerdy
I call my mom’s name often
Because only in her bosom I feel safe
I am a child
A scaredy one
Which thinks that her mom’s back is the safest place
I have no good sides , I guess there is none to be proud of
I am only good when my mom is around
I am that bad
A soon to be adolescent who still wants to act like her mommy’s puppy

Saturday, September 28, 2013

ya sudahlah

tersenyum kecut
menyandarkan kepala di meja
beberapa detik
mengangkat kepala
menghembuskan nafas panjang
" ya sudahlah , terima aja "
mulai bekerja lagi

- setiap saat tugas muncul tiba - tiba, merusak agenda -

Benar

kadang semakin kita merasa benar, semakin kita menjadi salah.
mungkin karena mata kita sudah tertutup oleh perasaan benar itu
padahal perasaan bahwa kita benar belum tentu membenarkan kita
tapi walaupun begitu, merasa benar juga tidak selamanya salah
selama kebenaran yang kita rasakan juga sudah bersifat objektif.
namun, kebenaran juga harus disampaikan dengan benar
agar kebenaran tidak ditangkap secara salah
dalam hal ini tentu saja pemahaman secara subjektif juga dibutuhkan
toh dalam sistem sosial tidak ada yang menentukan yang benar benar benar dan yang benar benar salah
pada akhirnya kita memang harus terus belajar untuk mencari kebenaran
karena bukan kita pemilik kebenaran
karena hanya Allah yang benar benar benar
semoga ketika saya menulis ini saya tidak sedang merasa saya benar
karena saya pun juga orang yang masih berusaha untuk tidak merasa benar
semoga Allah mengizinkan hamba untuk terus menghamba meminta ditunjukkan mana yang benar
tanpa merasa paling benar
agar hamba tidak dibutakan oleh perasaan benar yang dapat membuat hamba tidak dapat melihat mana yang benar benar benar

Saturday, September 21, 2013

AMBI

Ambi ? ya Ambi adalah singkatan dari kata ambisius .
Ambisius ? ya sebutan bagi orang yang ber ambisi
Ambisi ? kata KBBI ambisi itu keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;
Ambi ? kalo di UI mungkin sebutan bagi mahasiswa yang sangat ingin mendapat nilai A
Ambi , beberapa orang menempelkan stigma negatif pada kata sifat ini . padahal jika kita telaah lagi, menjadi ambi hanyalah menjadi orang yang sangat berkeinginan untuk menjadi atau memperoleh sesuatu.
Sering saya dengar kata kata seperti ini
“ ih lo ambi banget sih ? “
“iya dia itu gitu ambi banget, jangan sama dia lah”
“jadi mahasiswa tu gak usah ambi ambi , santai aja “
“eh lo jangan ambi banget dong”
Dari kata – kata itu, saya gagal mengerti kenapa menjadi ambi adalah sesuatu yang salah di mata mereka . saya menulis ini, bukan untuk memberi justifikasi pada diri saya sendiri. Tapi mungkin karena saya orang ambi, saya terkesan pro pada mereka ambi. Karena saya, orang ambi, juga memiliki alasan kenapa saya seperti ini.
Saya ambi . mungkin saya disebut begini karena saya belajar terlalu keras. Jika itu alasan kenapa saya disebut ambi saya memiliki beberapa alasan untuk hal ini
1.      Saya kuliah di tempat yang jauh dari rumah saya , untuk kuliah disini , ibu saya harus sendiri dari pulang kerja hingga berangkat kerja lagi di pagi hari. Untuk ibu saya yang kesepian karena merelakan anak – anaknya belajar di tempat terbaik untuk menjadi manusia bermanfaat nantinya , bisakah saya mengecewakan pengorbanannya hanya dengan bermalas – malasan ? tidak, saya harus belajar .
2.      Setiap saya berhasil mendapatkan suatu prestasi, saya melihat senyum bahagia dari mereka yang sangat saya cintai. Untuk bisa melihat mereka yang saya cintai selalu tersenyum, bila saya bisa membahagiakan mereka seperti ini, saya akan belajar lebih keras lagi
3.      Mereka yang percaya pada saya , mendoakan kesuksesan saya , bekerja untuk membuat saya bahagia , saya tidak akan mengecewakan mereka. Saya tidak akan menyakiti harapannya . untuk itu, saya belajar lagi
4.      Saya adalah seorang mahasiswa yang hidup dengan beasiswa. Beasiswa yang diberikan pada saya dari diterima hingga lulus nanti hampir berjumlah 100 juta rupiah. Jumlah yang besar bagi saya. Dan jumlah ini bisa digunakan untuk membeli 10.000 kg beras, atau membeli 6666, 667 liter air mineral yang tentu saja sangat berguna bagi masyarakat miskin di Indonesia. Tapi uang ini diberikan untuk pendidikan saya. Jika saya tidak belajar, bukankan masyarakat miskin kehilangan haknya atas 10.000 kg beras dan 6666, 67 liter air mineral ? saya harus belajar
5.      Alasan saya yang paling utama , karena Allah memerintahkan untuk hambaNya untuk menjadi khalifah yang mampu mengatasi permasalahan di bumiNya . untuk menjadi khalifah yang seperti itu, atau setidaknya agar bisa menjadi khalifah bagi saya sendiri, saya membutuhkan ilmu. Sekali lagi saya harus belajar.
6.      Lebih dari rentetan nilai A dalam akun akademis saya, walaupun tidak dipungkiri saya menyukainya, tapi ada hal lain yang saya tuju . simple, saya ingin menjadi orang yang berguna. Saya tidak sepintar dan sehebat mereka yang mampu berkarya tanpa harus belajar dengan keras. Bila saya harus rajin dan belajar agar dapat memberi manfaat di kemudian hari, maka saya bersedia mengambil jalan ini. Semoga ilmu yang saya tuntut dapat bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan saya nanti.
Saya cukup tau bahwa belajar tidak hanya terbatas pada membaca buku, membuat ringkasan untuk ujian, namun lebih dari sekedar itu. Karena itu saya belajar lebih keras lagi, berusaha berpikir mengenai yang ada dan mencari makna dari apapun yang ada di sekitar saya.
Belajar memang tidak senaif duduk di atas kursi dan membaca buku. Namun duduk di atas kursi dan membaca buku juga merupakan belajar. Saya memiliki alasan untuk menjadi ambi, kenapa saya belajar dan bekerja sekeras ini.
Walau saya ambi, saya pun sebenarnya juga sering kalah oleh rasa malas yang menguasai diri. namun saat kemalasan itu datang menghampiri, saya mengingat kembali, kenapa saya menjadi ambi .

Sebut saja saya ambi , saya tidak akan rendah diri.

Untuk mereka yang mencintai saya, mendoakan keberhasilan saya, menaruh harapan pada saya, saya tidak ingin mengecewakan mereka 

Sunday, September 15, 2013

perihal itu

kita tau
kita sama sama tau
namun kita saling bersikap lugu
sedang saling menunggu
untuk salah satu memulai lebih dulu
entah nanti ketika sudah dimulai
apakah akan menjadi akhir atau menjadi awal yang baru
yang jelas mungkin bukan seperti yang kamu mau
karena yang aku mau dan yang kamu mau
bukan hal yang satu
dan memaksakan salah satu
bukan sesuatu yang kita tuju
kita lihat nanti
bagaimana perihal ini akan diakhiri
atau mungkin dimulai
di lain dimensi

Saturday, September 14, 2013

I won't let me fall

because you are the person who is easily gone
because you are the person who has the likeliness to hurt me
because you are the person that I can't trust
so no matter what you do
I may care for you
I may pay attention to you
but I won't let me fall
I won't let anyone hurt me
the things that I won't do
I will never do that .

Monday, August 19, 2013

Who is Like a Mirage

Mirage
n1.  An Optical Illusion caused by atmospheric condition, especially the appearance of a sheet of water in a desert or on a hot road  caused by the refraction of light from the sky by heated air
n2.  An unrealistic hope or wish that can not be achieved
---
Sometime for some traveler
In their longway journey
The showing-up of a mirage
Will give them courage to walk a little more
To try once again to let go of the thirst
Even if it is false, it is still a hope
At least it makes them walk a little longer
It has them passed a little further
At least it lights up the possibility of the presence of water
Even they know that is impossible
But the possibility itself will make them a bit happier for a bit
When they know that something that they really want really can’t happen

Thankyou
For being a mirage

To me

untitled

I know I should not say , well I mean write, this
I know it’s not right to bid a good bye because it is only me who has always been here
I know I should not say that this is the end since nothing is started
But you know, I am the person who liked you for years
Even I know I can never be the kind of girl you like
Anyway I won’t be because I don’t want to be that kind of girl
Not because it is bad but because it is not like me
But  I really respect  you who never like me back
I know It is nobody’s fault
I never want to fall for you and neither you want to be liked by me
It all just happened the way it was
So thanks for all the lesson sorry for all the trouble
Sorry for the disturbia
Like always , I am gonna say that I’ll find my own way
I’ll be really happy
So you should be too like how you’ve always been

All in all , things that I want to say to enclose everything
Thanks for all the lesson
Sorry for being such a trouble 

Wednesday, July 10, 2013

10 Juli 2013

di sebuah Panti Tuna Ganda yang bahkan saya sudah lupa apa namanya, namun setidaknya saya masih ingat apa pemikiran yang saya temukan disana.

" Kita semua memang manusia yang memiliki keterbatasan tapi kita harus tau bahwa kita masih sangat beruntung karena ada saudara - saudara kita yang masih lebih terbatas dari kita " - Kak Hanif

Kak Lena salah satu penghuni panti tuna ganda yang memiliki lebih dari satu disabilitas yang saya bahkan nggak tau apa saja macamnya, saat ini sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan bahkan sudah bisa puasa Ramadhan dan menyuapi salah satu pasien lain yang masih kecil.

Kak Rasti seorang penyandang Tuna Daksa, mampu melawan disabilitasnya dengan merangkai kain dan gelang, menulis cerita dan puisi yang sudah akan diterbitkan bukunya. Yang mana ceritanya telah banyak memotivasi penyandang disabilitas lain untuk terus berkarya.

Kita , khususnya , saya
yang memiliki mata yang bisa melihat
yang memiliki mulut untuk berbicara
yang memiliki tubuh yang bisa digerakkan dengan sempurna
yang memiliki otak untuk berpikir
yang memiliki cukup akses untuk memperjuangkan apa yang saya inginkan
apa yang telah saya lakukan ?
apakah saya hanya menggunakannya untuk kepentingan saya sendiri ?
bagaimana kita, saya,  bisa memfungsikan potensi yang saya miliki untuk bisa bermanfaat bagi orang lain?
bagaimana kita, saya, bisa menolong mereka ?
sayangnya, dengan bodohnya, saya masih tidak mengerti apa - apa.

terima kasih atas pelajaran yang telah kalian berikan pada saya hari ini :)
"we are so much more than just lucky. there is no reason for us to complain. they got bigger problem, they made bigger things. stop making excuse, start doing something"

Thursday, July 4, 2013

Mereka

Masih sangat jelas di ingatan saya
Apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan, dan apa yang saya rencanakan ketika pertama kali datang disini
Di tempat yang katanya kampus perjuangan ini,
Masih tinggi tembok yang saya bangun untuk melindungi diri saya sendiri
Dan tanpa sadar ternyata hal tersebut, dulu, cukup membatasi untuk belajar lebih banyak lagi,
Masih sangat jelas di ingatan saya
Bagaimana saya berusaha memberikan justifikasi bahwa hanya “belajar” mungkin sudah cukup benar,
Hingga akhirnya pada bulan februari saya bertemu mereka,
Mereka
Yang telah menarik saya dari zona aman yang saya buat untuk diri saya sendiri
Yang telah memberikan atmosfer keluarga disini
Yang telah menarik saya dari hanya duduk di depan meja belajar dan mengajarkan saya lebih banyak hal
Yang telah memfungsikan hati saya lagi untuk lebih peduli setelah lama mengasingkan diri
Yang memberikan saya kesempatan untuk bekerja , untuk menjadi berguna bagi orang lain
Yang memberikan saya cukup banyak kesibukan sehingga saya tidak begitu memiliki waktu untuk meratapi kerinduan saya akan rumah
Yang memberikan saya kesempatan untuk menyadari bahwa saya sangat beruntung untuk berada disini dan dalam kondisi seperti ini
Yang memberikan waktu untuk telinga mereka mendengarkan , memberikan waktu untuk mengerti kenapa saya seperti ini
Yang tetap berada disamping saya setiap waktu saya berubah menjadi anak kecil yang suka mengganggu
Mereka , Adkesma BEM FISIP 2013.
Saya selalu tau
Mereka telah menolong saya untuk berada di tempat yang saya nikmati saat ini
Tanpa mereka, saya bukanlah apa – apa
Tanpa  mereka, Saya mungkin hanya akan menjadi mahasiswa yang tenggelam dalam buku dan impiannya

Terima kasih untuk mereka, untuk semuanya :)
(Fira, Dwi, Maria, Yaya, Kak Utri, Dea, Kak Aga, Sandi, Yoga, Indra, dan Fay yang ga ada di foto ._.v)

Saturday, June 8, 2013

kami memang bodoh

kami memang bodoh
karena kami memang anak yang tak mau sekolah
pendidikan tak berarti bagi kami
bagaimana tidak ?
makan setiap hari saja kami tak pasti
percuma kami pintar kalau kami tak bisa hidup

kami memang bodoh
sekolah tak menarik bagi kami
sekolah favorit yang katanya berstandar dan berfasilitas tinggi tak mampu kami jangkau
sekolah yang mampu kami jangkau sudah merendahkan kami bahwa kami bodoh
mereka berpikir kita tidak mau belajar, atau mereka yang tak mau mengajar anak bodoh seperti kami

kami memang bodoh
belajar tak menarik bagi kami
bagaimana mungkin belajar bisa menarik bagi kami?
ketika setiap hari kami diberi tayangan FTV yang menggambarkan hal yg lebih menarik
hidup bersenang - senang, mengejar cinta dan patah hati, menjadi gaul dengan berfoya - foya

kami memang bodoh
kami suka menonton tv yang memberikan tayangan tak berarti
mau bagaimana lagi
uang kami tak mampu menjangkau hiburan yang lebih dari ini

kami memang bodoh
kami tak punya uang
namun jika diberi
gadget lebih menggoda daripada makan sehari hari
bagaimana tidak ?
kami juga ingin memiliki hal yang mereka gambarkan harus kami miliki
lapar kan sudah biasa
tapi kemampuan memiliki gadget mampu menghapuskan rasa sakit hati kami
mungkin dengan memiliki ini, kami bisa sedikit dihargai

kami memang bodoh
tapi bukan sepenuhnya salah kami
bukankah tayangan, gambaran hidup, dan sistem yang dibuat orang kaya itu yang membodohkan kami?
kami hanya orang bodoh yang tak mampu memilih
mereka bilang kami cuman mengeluh, mereka bilang kami salah berpikir
kami menerima apa ucapan mereka
kami memang bodoh hingga selalu mengeluh dan salah berpikir
tapi bukankah mereka yang sengaja membodohi kami ?
kami tidak meminta tayangan, gambaran, dan sistem yang mereka tampilkan
tapi itu kenyataan yang kami temui setiap hari
kan kami memang orang yang bodoh, kan mereka orang yang pintar
harusnya mereka yang tau kalau apa yang mereka lakukan membodohkan kami
kalau kami tak tau, itu kan wajar, karena kami memang bodoh

kami memang bodoh
tapi bukan sepenuhnya salah kami

Monday, May 13, 2013

Saya, setidaknya.


"What do they know about me ?
When even me , do not really know who am I"

Selama ini saya selalu merasa mengerti diri saya sendiri. Apa potensi yang saya miliki. Apa yang saya inginkan. Dan bagaimana saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya pun merasa itu adalah salah satu kelebihan yang diberikan Allah pada saya.

Saat ini ? semuanya begitu abstrak. Saya tidak begitu mengerti, lagi.

Saya menginginkan banyak hal, terlalu banyak hal. Saya menargetkan banyak hal, terlalu banyak hal. Kemudian saya tanyakan pada diri saya lagi. Bisakah saya dengan keterbatasan kemampuan yang saya miliki ? atau benar benar inginkah saya ? atau semua hanya nafsu sementara untuk meraih sebanyak – banyaknya demi terus menikmati status yang saya miliki beberapa tahun ini.

Setelah melewati berbagai macam dinamika dan proses, saya belajar. Penghargaan terbesar adalah pemberian. Bukan semata – mata pemberian yang diukur dari material, namun sumbangsih, kebergunaan, pemikiran, kebermaknaan. Saya rasa itulah pencapaian.

Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, memberi ? pada hal apa ? pada bidang apa? Bagaimana agar saya bisa berguna? Saya pun masih belum mengerti. Saya pun masih mencari.

Saya pun juga mengerti, bahwa proses pencarian jati diri, bukanlah alasan untuk berhenti memberi apa yang saya miliki saat ini. Karena bahkan rumput pun bergoyang untuk menghargai angin, menggelitik manusia yang berjalan diatasnya, memberikan bunyian senyapnya yang mendamaikan. Setidaknya saya harus memaksimalkan potensi yang Allah izinkan untuk saya miliki, untuk terus memberi.

Saya pun mengerti, proses pencarian jati diri, tidak akan pernah berhenti. Saya tidak akan pernah menjadi sempurna, terbaik di antara segalanya. Hal yang bisa saya lakukan adalah untuk terus berusaha, bila tidak pintar setidaknya saya belajar, bila tidak berhati suci setidaknya saya terus memperbaiki diri,  meski bukan yang diharapkan setidaknya saya masih memberikan kebermanfaatan dan kebergunaan.

Ini saya dari yang saya pikirkan saat ini. Dari determinasi yang saya tetapkan hari ini. Mungkin besok saya akan berubah lagi, semoga lebih baik.

Tuesday, April 30, 2013

nilai

tanpa merendahkan fungsi dari nilai itu sendiri,
memang perlu diakui bahwa ada nilai yang telah diindustrialisasi
nilai yang telah tersedimentasi tidak semata mata menjadi yang sejati
karena pengaruh pihak yang berkepentingan,
memang ada nilai yang justru menyesatkan pemikiran.
memang diperlukan usaha untuk memisahkan nilai yang membawa pada kebenaran dan nilai yang justru menyesatkan.
karena nilai mempengaruhi pilihan,
untuk itu diperlukan pemahaman,
mengenai mana yang harus dipertahankan,
dan mana yang sebaiknya dilupakan.

Thursday, April 25, 2013

# A Letter

Dear you,
Whom I've first known 3 years 1 month and 14 days ago
People say time will heal
distance will help
but nothing is erased
it gets even firm
nothing changes
I am still the girl from 3 years 1 month and 14 days ago
I'm just stronger and at the same time, even weaker.

From that girl,
who doesn't change from 3 years 1 month and 14 days ago.

Friday, March 29, 2013

do not let yourself be trapped


I think I’m going to write what I’m going to write. Of course, what else anyway.. okay but as always I’m going to give you some warnings before you read my writing. I think you need to know the fact that I am just a person with limited knowledge , science, and experience. So if you have any different thought with me, I am always open for discussion about it.
Dan bahasa yang akan gunakan ? oke seperti biasa campuran. Haha
Jadi ini sebenarnya adalah efek samping dari belajar MMI. Hha
Indonesia, Indonesia adalah bangsa yang besar, katanya. Peradaban di Indonesia yang pertama atau setidaknya yang bisa dibuktikan secara ilmiah sebagai yang pertama adalah peradaban di Kerajaan Kutai pada abad 5 yang dituliskan pada prasasti Yupa. Oke semua anak SD pasti juga tau itu. Kebesaran bangsa kita pada masa itu juga didukung dengan bukti bukti besarnya pemasaran rempah-rempah dari berbagai Kerajaan di Indonesia saat itu mulai dari kerajaan Samudra Pasai yang ada di ujung malaka hingga kerajaan ternate dan tidore yang ada di ujung timur di Indonesia. Indonesia juga memiliki 2 kerajaan nasionalnya yang hampir menguasai seluruh Indocina yaitu kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit. Karya besar peradaban masyarakat kala itu juga masih dapat kita nikmati hingga sekarang yaitu candi borobudur, prambanan, dll.
Lalu apa yang dapat kita ambil dari fakta dan cerita itu ?
Pencarian jati diri sebagai bangsa Indonesia! Mungkin inilah yang dimaksud Hall tentang identitas kultural sebagai sarana pencarian jati diri sejati. Karena fakta – fakta yang saya sampaikan diatas adalah peradaban yang ditemukan di Indonesia dan bila bisa disimpulkan dengan justifikasi logika bodoh, bahwa orang – orang dalam peradaban tersebut adalah orang yang bisa diakui sebagai masyarakat pribumi. Mungkin terlalu subjektif karena fakta yang saya sampaikan di atas terkesan hanya menampilkan kebaikan  dari peradaban tersebut saja, tapi setidaknya dari fakta baik – baik yang saya sampaikan di atas kita dapat menemukan kultur kerja keras, produktivitas, dan loyalitas. Karena bila kita pikir kembali, mungkinkah candi semegah candi borobudur akan terbangun tanpa kerja keras dari pekerja yang membangunnya, tanpa orang brilian yang memberikan grand designnya yang sampai sekarang belum tercatat namanya, dan tanpa pemerintah kerajaan yang mendukung tercapainya karya tersebut? Mungkinkah sriwijaya bisa menguasai Indocina tanpa loyalitas yang besar pada kerajaannya untuk rela berperang demi kebesaran kerajaannya dan tanpa usaha para pedagang dan ilmuwannya untuk menyebarkan seluruh pengaruhnya di indocina ? jawabannya tidak bukan ? meskipun perlu kita pikirkan kembali tentang paradoks the moral man and the immoral states yang ditulis Niebuhr bahwa altruism causes national egoism tapi mungkin hal yang bisa kita highlight disini adalah kerja keras dan loyalitas dari suatu penduduk terhadap hal yang mereka anggap sebagai tanah air mereka.
Tapi, semuanya berubah saat abad 15.. tepat dengan renaissance yang terjadi di Eropa dan tren imperialisasi yang mereka lakukan.. dan akhirnya membuat Indonesia sebagai  salah satu negara koloninya.. hingga terjadilah hibriditas yang dituliskan Robert Young dan mimicry yang dituliskan Bhabha di Indonesia. Seiring dengan pendudukan bangsa Belanda di Indonesia telah merubah konstruksi, sistem, struktur, stratifikasi sosial di Indonesia. Bangsa Belanda yang berhasil menduduki tingkat stratifikasi sosial tertinggi di Indonesia.. dan karena pemikiran manusia merupakan hasil sosialisasi yang terjadi selama hidupnya dan karena manusia memiliki naluri untuk memberikan penghargaan pada suatu hal dibanding hal lain kemudian ditambah lagi dengan kebutuhan dasar manusia tentang pemenuhan penghargaan dan penerimaan atas eksistensinya yang sering ditafsirkan dalam penghargaan oleh manusia lainnya.. timbullah logika sebagai berikut..
Premis 1 : Belanda adalah pihak yang menduduki strata sosial tertinggi yang mendapatkan penghargaan sosial, privilege, dan sosial yang tertinggi
Premis 2: Setiap manusia menginginkan sebuah penghargaan dan pengakuan atas eksistensinya
Kesimpulan : Setiap manusia (dalam konteks ini yang tinggal di Indonesia pada kala itu) ingin menjadi bagian dari Belanda atau setidaknya bersikap seperti Belanda agar mereka mendapatkan perlakuan yang sama
Okay, saya akui bahwa pemikiran di atas mungkin bisa dikatakan fallacy karena generalisasi terburu – buru yang kurang memperhatikan banyak fakta black swan, tapi saya setidaknya punya beberapa bukti yang memperkuat pernyataan saya di atas, yaitu terinternalisasi dan tersedimentasinya pengaruh budaya Belanda di Indonesia hingga berhasil menggeser nilai – nilai yang ada sebelumnya. Nilai – nilai yang ditularkan Belanda tersebut dituliskan oleh Mochtar Lubis yaitu
  Hipokrit/ Munafik
  Enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya
  Berjiwa feodal
  Percaya takhayul
  Artistik
  Berwatak lemah
Dan Koentjaranigrat
  Sifat mentalitas yang meremehkan mutu
  Sifat mentalitas yang suka menerabas
  Sifat tak percaya kepada diri sendiri
  Sifat tak berdisiplin murni
  Sifat mentalitas yang suka mengabaikantanggung jawab yang kokoh
Okay saya tidak akan menjelaskan alasan kenapa 2 tokoh sosiologi Indonesia tersebut memiliki pandangan tersebut mengenai sifat masyarakat di Indonesia yang  dipengaruhi oleh nilai Belanda selama masa penjajahan karena akan terlalu bertele – tele untuk tulisan ini. Tapi saya rasa siapapun pembaca tulisan ini anda boleh melakukan survey kecil – kecilan tentang pembuktian pendapat tersebut dan mungkin anda akan segera mendapatkan buktinya. Sifat – sifat tersebut dapat kita lihat pada kolonial Belanda dan mereka telah membuktikan bahwa sifat – sifat tersebut menghancurkan dengan bukti jatuhnya VOC pada tahun 1799 yang dikarenakan orang Belanda yang bertugas di Indonesia saat itu memiliki mentalitas seperti itu.
Masalahnya ? Masyarakat Indonesia sampai saat ini masih memiliki mental – mental tersebut karena nilai – nilai tersebut telah tersedimentasi dalam sistem nilai sosial dan kultural budaya Indonesia. Ingin bukti ? budaya korupsi, budaya menyontek, sifat konsumtif, instan, dan pemalas. Anda bisa melihatnya.
Okay. Tapi saya nggak akan berbicara lebih jauh tentang jelek – jeleknya Bangsa Indonesia saat ini. Karena bagi saya, yang paling penting adalah kita. Manusia – manusia yang sekarang hidup di Indonesia dan ngakunya berkewarganegaraan Indonesia. Bagi saya, maju atau tidaknya peradaban suatu negara ditentukan oleh orang – orang yang hidup di dalamnya. Meskipun kita hidup di negara yang sangat maju sekalipun tapi kalau manusia yang tinggal di dalamnya memiliki mentalitas seperti yang disebutkan Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis diatas maka nggak akan lama negara itu akan jatuh. Bukti ? Amerika Serikat mungkin bisa jadi bukti.  Okay tapi perlu kita akui bahwa sistem pasti berpengaruh tapi karena dalam konteks kita sebagai penuntut ilmu itu sendiri belum memberikan kita ruang untuk merubah sistem, maka hal yang mungkin bisa berikan saat ini adalah perubahan dalam diri kita sendiri.
Perubahan dalam diri kita yang ingin saya sampaikan disini dimulai dengan jangan mau jadi korban struktur sosial! Saya akui bahwa struktur sosial yang terwujud dalam nilai dan norma sosial tersebut memiliki perannya untuk menjaga ketertiban sosial . tapi ingat konteks yang saya bangun dalam pesan saya tadi adalah korban. Yang berarti mengindikasikan nilai sosial yang belum sesuai dengan kebenaran. Contohnya struktur sosial yang dapat membuat kita jadi korban sosial adalah korban dari anggapan bahwa menyontek adalah hal yang wajar yang nanti ketika kita memasuki dunia kerja akan berubah menjadi nilai yang menyatakan bahwa korupsi adalah hal yang wajar. Itu hanya salah satu contohnya. Yang penting adalah menjadi kritis terhadap nilai – nilai sosial yang ada di masyarakat sekarang dan berpeganglah pada kebenaran yang hakiki. Jangan berpegang pada kebenaran yang ada di masyarakat karena kebenaran yanng ada di masyarakat saat ini bisa saja berubah besok karena semua itu merupakan kontruksi sosial. Dimana kebenaran hakiki itu? Kalau anda belum menemukannya maka carilah, sedikit saran dari saya, agama yang anda peluk itu mungkin itulah kebenaran hakiki yang bisa anda percayai. Jadi karena saya adalah pemeluk agama islam maka patokan kebenaran yang saya miliki adalah nilai – nilai dalam agama islam itu sendiri. Kalau masih bingung mencari mungkin nilai – nilai yang ada di masyarakat Indonesia masa lampau bisa jadi salah satu contohnya, loyalitas, produktivitas, dan kerja keras. 3 hal tersebut masihlah langkah awal, tapi dengan internalisasi 3 nilai tersebut dalam pribadi anda adalah kontribusi pertama anda untuk memajukan Indonesia. Kita bisa melihat Cina yang memiliki jiwa produktivitas tinggi yang telah berhasil menguasai mayoritas perekonomian dunia saat ini.
Building and developing a country such Indonesia is not a matter that is gonna be finished in a day or night. It’s a long and complex process that need commitment in every aspect. If you know it has long way to go, why would you delay the journey for a later ?
When you’re a child you have to dream as high as the stars in the sky.
What happen when you we grow up ?
That is the hardest part. Because you have to hold tight on your dream and face the reality as well, but don’t let go of it. – Peter Pan-
JUST DON’T LET YOURSELF BE TRAPPED IN TODAY’S SOCIAL VALUE, BE CRITICAL AND FIND YOURSELF IN THE MIDDLE OF THE HECTICNESS OF TODAY’S SOCIETY.

Monday, February 18, 2013

Thursday, February 14, 2013

"status yang menyenangkan itu harus dapat kalian pertanggungjawabkan"
- mbak evi -

Wednesday, February 13, 2013

PERCAKAPAN DALAM JEBAKAN HUJAN


(Rabu 13 Februari 2013, setelah EPT di pagi hari, kuliah di siang sampe sore, dan hujan deras yang membuat kami harus duduk menunggu selama kurang lebih 2 jam di depan gedung E)
R : Tadi essaynya nulis tentang apa ?
I : I nulis masalah cheating
J : iya gue juga dan topik essaynya emang gue banget. Gue masi inget banget sama pengalaman gue 6 tahun di SPH. Padahal international school tapi siswanya nyontek semua. Gue bahkan sempat marah sama mereka soalnya pas gue sebel mereka nyontek pas ujian, mereka malah nyalahin gue kenapa gue nggak ikutan nyontek! Sebel banget, sekolah buat apa kalo cuman contekan pas ujian!
R: Iya aku dulu waktu SMA juga gitu, awalnya si aku suka nyontek juga terus lama – lama aku mutusin buat nggak nyontek lagi. Tapi meskipun aku udah nggak nyontek aku masih harus ngasi contekan ke tementemenku soalnya kalo nggak ntar nggak enak. Tapi akhirnya pas aku udah ga tahan aku bilang ke mereka kalo aku nggak bisa nyontekin lagi soalnya aku ngrasa kok mereka terlalu gantungin diri sama aku dan kayanya tega banget gitu, aku belajar sampe pagi tapi mereka cuman nyontek aku dan ga belajar sama sekali
I : iya, kalo di Indonesia tuh wajar soalnya sistem pendidikan disini itutu kaya cuman ngedepanin gimana biar dapet skor yang bagus. Padahal kalo dipikir – pikir skor itu tu cuman selembar kerta s yang bakal ilang dan ga akan dipake terus ke depannya. Tapi yang penting kan ilmu sama skillnya buat masa depan kita.
J : di Korea juga gitu kok, kita emang juga ngedepanin skor doang soalnya buat dapet universitas yang paling bagus tuh musti bagus nilainya. Tapi disana tu ga ada yang nyontek, kalopun ada biasanya satu sekolah itu cuman ada di satu kelas dan satu anak dan kalo sampe ketahuan hukumannya ga kira kira. Kalo ada temennya yang tahu pasti abis tuh anak.
R : lhoh emang gitu temennya ngelaporin temennya yang nyontek ?
J : Iyalah! Yakali! Yang lain belajar susah – susah dia malah curang, kalo gue tau gue abisin tuh anak
R : Kalo disini walopun tau ada kecurangan gitu, kita juga nggak bisa ngapa – ngapain. Kita lapor toh nggak ada tindak lanjut. Ntar kalo kita lapor malah cari masalah dan ngrusak hubungan pertemanan. Sulit sih nyelesain masalah nyontek disini, soalnya udah tersistem gitu.
J : yang jelas tuh soalnya ga ada hukuman yang bisa bikin jera buat orang yang curang pas ujian. Pengawasnya juga ngedukung kecurangan itu. Soalnya ga mungkin lah mereka ga liat orang temen – temen gue dulu curangnya ketauan banget, kalo sampe mereka gatau mereka buta kali ya
( Percakapan di atas terjadi antara 2 mahasiswa berwarga negara Indonesia dan 1 orang mahasiswa warga negara Korea Selatan yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia. Percakapan di reduksi menjadi sedemikian rupa, namun percakapan yang dituliskan tidak mengurangi atau melebihkan inti percakapan yang terjadi sebenarnya. Pilihan kata juga kurang lebih sama tapi karena keterbatasan ingatan penulis ada beberapa kata yang berubah dan ada juga beberapa kata yang diedit agar lebih halus .)
Well talking about CHEATING ? I have always some concerns about this topic . WHY ? because I have felt it for myself how it feels to be cheated on a test that you worked hard on it. I admit, it hurts. Just imagine  while you have to study all the subject until 3 am, exhausting yourself to get the best result. Your friend who is having their sleeping beauty cheats on you by looking at your answer sheets and copy all the answers to theirs answer sheets. If you really can imagine that, please, tell me how do you feel. You can let it go ? you can smile ? you are not dissappointed ? DON’T JOKE ME! WHAT ? YOU DO THAT FOR THE SAKE OF FRIENDSHIP ? PLEASE STOP THAT BULLSHIT. ARE REAL FRIENDS THOSE WHO CHEAT ON YOU ?
WHAT ? REASON? BECAUSE TOO MUCH BURDEN ? BECAUSE TOO MUCH DEMAND FROM YOUR PARENTS? DON’T YOU THINK THAT YOUR FRIEND WHO IS BEING CHEATED GOT THEM TOO? LOGIC PLEASE! THAT’S AN OBVIOUS EXCUSE WHICH IS NOT EXCUSABLE AND REASONABLE !
I’m now writing this not because I have grudge or anger in those people who have done that to me. Well actually I did have the anger, but that was all in the past and I don’t bother about it anymore. The reason why I’m writing this now is I don’t want other students to feel the same way as I felt that time, when I was being cheated. I can tell you for sure that it was a hard time for me to keep my idealist side to keep my honesty and my spirit of hardwork against my realistic side that cheating is a known secret, habit, and unpermittable permitted things. And also I have the concern for those who are being the cheater. I strongly recommend all of you to stop that habit from now on. I can tell you for sure CHEATING GOT YOU NOTHING! What ? accepted in prestigious university by cheating ? do you think that is a PROUDABLE AND HONORABLE ? YOU EXACTLY KNOW THE ANSWER.
I often hear a saying if you don’t help them to cheat they will call you selfish. Well I know that because I have heard that too. But let’s put some more thought on that. WHO IS THE ONE BEING SELFISH ? THE ONE WHO SPENDS THEIR TIME TO STUDY TO GET THE BEST RESULT OR THOSE WHO RELY ON THEIR FRIEND WHO HAS STUDIED ALL NIGHT ?IS IT WRONG THAT YOU ARE PUTTING AN EFFORT TO GIVE YOUR BEST?
AND WHAT? THEY SAY PEOPLE HAVE DIFFERENT CAPABILITY? DO YOU HAVE TO EVEN SAY THAT? EVERYBODY KNOWS THAT TOO! IF YOU DON’T THINK THAT YOU DON’T HAVE ENAUGH CAPABILITY TO GET A GOOD GRADE IN A SUBJECT YOU MUST STUDY HARDER OR NOT YOU CAN JUST IGNORE IT AND FOCUS ON YOUR STRENGTH! PEOPLE GOT THEIR OWN CAPABILITIES YOU KNOW. THAT WAY YOU CAN STILL GROW TALL WITHOUT STEPPING ON OTHERS.
Well I’m not writing this using capital letter because I attack or offense anybody. I just want all the students or scholars or those who care for education know about this fact, realize that the little white lie leads them to a black hole. STOP YOUR HABIT OF CHEATING, CHEATING GOT YOU NOTHING. LET’S BE THE HONEST AND SKILLFUL GENERATION FOR OUR BELOVED COUNTRY !
-well if perhaps, if you still try to justificate your cheating habit, please, at least consider the feeling of those who don’t cheat, they are your loving friend, you said-

PERCAKAPAN DI JALAN CINTA


(Sabtu 1 Desember 2012, perjalanan pulang setelah FINAL DAY PRA TKHI 1, di jalan cinta)
Il : Eh liat deh anak – anak yang pacaran disitu. aneh banget sih..
R : Iya.. ganggu pemandangan banget
Il : Kalo pacaran tuh di mall sana nonton, jalan – jalan makan.. ato kemana gitu kek yang pemandangannya bagus jadi jelas ada yang diliatin. Nah ngapain coba mereka pacaran disini? Mau ngliat jalan ato liat hutan. Mana masih muda – muda semua gitu
R: Ya maklumlah.. paling mereka milih pacaran disini soalnya jalanan sini sepi, biasanya kan yang pacaran kaya gitu pada ga bener semua. Ya lo tau lah kira – kira mereka niatnya disini juga mau ngapain
Il: Mereka yang pacaran disini tuh pasti gara – gara gapunya duit. Sedih banget sih. Kalo ga punya duit tuh yaudah gausah pacaran dulu. Belajar dulu yang rajin, terus kerja nyari duit biar bisa ajakin pacarnya ke tempat yang rada bagusan dan gak di jalan tengah hutan gini. Kalo caranya gini gimana Indonesia bisa maju ? masa pemudanya cuman mau pacaran, cinta – cintaan, tapi ga mau belajar, ga mau cari duit, ga mau berjuang buat masa depan. Pemuda tuh seharusnya produktif kalo bisa pacarannya sekalian setelah nikah  jadi sah dan nggak dosa.
*lalu tiba tiba si Il ngomong dengan suara yg lebih keras, “ ciee yang ngrasa paling romantis, paling kece, paling berani, paling cinta dengan deket – deketan di jalanan yang sepi.. ciee yang bahagia – bahagiaan kaya di FTV.. awas aja setan jadi pihak ketiga*
Il : cinta itu butuh biaya juga, makanya kerja.. belum bisa kerja ya belajar dulu.. pemuda itu harus tanggung jawab sama masa depan mereka, nggak cuman itu, masa depan bangsa juga..
R : sebenernya kasian juga si sama mereka, mereka kan nggak seberuntung kita bisa dapet pendidikan, pengasuhan, sama perhatian sebaik kita. Sehingga mereka nggak ngerti kalo apa yang mereka lakuin tuh nggak tepat
(kirakira itu inti percakapan antara penulis dengan Il pada saat berjalan melalui jalan cinta. Tentu saja tulisan ini banyak editannya, bukan karena apa-apa tapi karena terlalu lama belum ditulis sehingga lupa. Tapi tetep aja, tulisan ini nggak mengurangi ato ngelebihin inti dan nilai – nilai yang ada dalam percakapan tersebut)
NB :
1.       Jalan cinta adalah jalan yang menghubungkan asrama universitas dan komplek kos mahasiswa yang sudah diaspal namun sering ditutup untuk kendaraan umum. Di sepanjang pinggir kiri jalan cinta terdapat hutan universitas yang lebat. Jalanan ini sepi sehingga sering digunakan untuk kepentingan umum seperti jogging track, pengadaan event seperti outbond, dan pengalihan jalur transportasi agar tidak macet. Namun saat tidak digunakan untuk kepentingan tersebut, jalan cinta sering dimanfaatkan pihak yang tdk bertanggung jawab untuk melakukan tindakan yang kurang bertanggung jawab.
2.       Kondisi jalan cinta saat itu penuh dengan muda – mudi yang bermesraan dan melakukan hal yang nggak begitu pantas di muka umum di jalan cinta
3.       Ini postingan no offense. Okay ? cuman berbagi opini.

Saturday, February 2, 2013

just another thing on my mind


Well I’m going to tell something.. while I have the mind to write what I’ve been thinking..
Firstly I’m going to say that whether this is a reason or an excuse and I don’t know if I’m being subjective or objective when I’m writing this and whether this writing is gonna be inspiring or just another fool out of me, this is just this. One of my writing, one thing that cross my mind.
This is about my experience to study far from my home.
You know when you get into college, you’re gonna have a long holiday right ? and of course before that long holiday you have to trough a long time by yourself to seek that the so called science or knowledge or experience even. Me, when I’m going to go to my beloved town, Kediri, after spending the whole 4 months at Depok, I find it hard to leave Depok or my circumstances out there. That is the feeling that I have never expected because I will always think that just like another, I will love coming home. And just like that when I’m already home and it’s time to go back to Depok again I’m really heavy to leave my home, that’s normal right.
And because of that I wonder why I experienced these things. Why did I find it hard to come home and why did I find it hard to come back to Depok ? why am I being inconsistence and such. And the answer that I have is.. because it feels like you have 2 life, you have different life. When I was going to go back to Kediri I found it hard to leave Depok because I had to leave all my habit at there .. my way of doing everyday .. and same things happen now. When I’m gonna go back to Depok.
Sometime I think like what good it would be if just my parents / my family also move there.. then I’ll be able to love and be loved by them also feel the warmth that I feel everyday at home, well it doesn’t mean that when I’m afar from my home they don’t love me or what but you know it feels different when you get the chance to love and show them directy instead of just saying or communicating through all the information technology things, well those things help but still it can never have the same feeling. But I know that having only your family there, there are things left out. That is your friend, your pals, your enemy, those things include too. Because they are also part of your life, even if they are not as important as your family, but they got their room in your heart you see. You are gonna miss them too. And if you are as alay as me, perhaps, you’re gonna cry missing them.
At first, when I read the tweets of my sophomores at UI which also come from Kediri when they’re gonna go back to Depok, they whine and such. And I thought what is that and judged it as irresponsible coward and such. But now as I feel it for myself I see that I’m not as strong and great as I think I’d be. I’m just that weak and fool person who like to whine and is hard to express my gratitude when I’m given so much by Allah..
But still, I’ll try my best to put up with everything.  I’ll keep on trying. I’ll just strengthen myself. As always, because of Allah and the love of those people who love me.. I am everything I am because you (all) love me.
-rahma-

Wednesday, January 16, 2013

Apple on the tree


“Girls are like apple on trees.
The best ones are at the top of the tree.
The boys don’t want to reach for the good ones because they are afraid of falling and getting hurt.
Instead, they just get the rotten apples from the ground that aren’t as good, but easy.
So the apples at the top think something is wrong with them
When in reality, they are amazing
They just have to wait for the right boy to come along
The whos brave enaugh to climb all the way
To the top of tree .”

I believe that once. When I was SMP. When I was still drown in my utopianic world of dramas. The time when I thought that something in the movie did happen in reality, including mine.

I am now almost 18. I have been studying in a college. I am much grown up. And I am not naive anymore. I just know.. World desn’t work that way.

 There must still be something wrong with those apple at the top of the trees. Who knows what is that ? you guess.

Wednesday, January 9, 2013

cerita

cerita yang saya tulis disini sebenarnya adalah tugas ospek saya ketika saya pertama kali memasuki dunia perkuliahan. saya tidak tau apakah isi dari yang saya tulis pada tugas saya itu akan bermanfaat, tapi saya berharap saya dapat berbagi pengalaman dan idealisme yang saya miliki pada siapa saja. setidaknya, inilah yang saya tulis ketika mereka meminta saya untuk menceritakan kisah hidup saya
Saya

Saya Rahma Lestari Anggraini. Saya terlahir tanggal 25 Januari 1995 di tengah keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Masa kecil yang saya lalui mungkin bisa dikatakan sempurna, karena kesempurnaan di mata saya saat itu hanya memiliki makna yang sempit. Bila saya mendapatkan apa yang saya inginkan, saat itu bagi saya, itulah sempurna. Tumbuh dengan kondisi seperti itu membuat saya menjadi anak yang manja dan materialistis.
Masa SMP
Tapi kehidupan keluarga saya berubah total pada saat perusahaan tempat ayah saya bekerja mengalami kebangkrutan. Saat itu, tepatnya tahun 2006, ketika saya mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama. Berbeda dengan sebelumnya, saya tidak bisa mendapatkan semua yang saya inginkan, bahkan untuk membeli sekadar baju atau buku, kadang kami tidak memiliki uang untuk itu. Teman – teman di sekolah saya yang notabene kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas, sering memandang rendah saya karena saya bukan anak yang memiliki paras cantik yah bisa dibilang saya jelek, ditambah lagi saya juga tidak memiliki kemampuan untuk membeli barang barang bermerk seperti  yang mereka miliki. Karena saya memiliki latar belakang materialistis, saya mengerti kenapa mereka merendahkan saya. Karena saat saya masih SD dulu, saya juga sering menilai orang dengan kriteria fisik belaka. Perlahan saya mulai merasa rendah diri, walaupun saya tidak pernah menampakkannya di depan teman – teman saya. Ketika ada teman saya yang merendahkan saya secara frontal , barulah saya merasa, saya tidak boleh rendah diri, saya harus membuktikan bahwa saya memiliki nilai dan kelebihan saya. Saya harus membalas cemoohan mereka dengan bukti yang nyata, prestasi.
Tepat saat itu, sepupu saya bercerita pada saya tentang kegagalannya dalam tes memasuki universitas. Jurusan dan universitas yang ia inginkan saat itu adalah Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Ia bercerita kepada saya alasan ia ingin memasuki jurusan dan universitas tersebut dan betapa sulitnya untuk meraihnya. Tanpa sadar, telah tertanam dalam otak saya, bahwa berhasil memasuki jurusan dan sekolah tersebut dapat membuktikan bahwa saya juga masih beharga. Kebetulan saya juga memiliki kemampuan yang lebih di bahasa asing, tapi sejak itu, saya lebih serius dalam mempelajari bahasa asing.
Awal SMA 
Ketika saya mulai memasuki bangku SMA, saya terpisah dari teman –teman SMP saya. Saya mulai merasa, apa gunanya saya kalau saya melanjutkan hidup saya hanya untuk membuktikan kepada mereka, yang hanya bisa mencemooh saya. Saya mulai mencari kenapa saya harus hidup. Saya merasa bahwa hidup saya harus berarti. Saya tidak lagi ingin membuktikan atau membalas cemoohan teman SMP saya, saya hanya ingin menjadi orang baik. Menjadi orang baik mengharuskan saya untuk menjadi berguna bagi sesama, karena sesuai ajaran agama saya, Rasulullah pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dan tentu saja , kita akan lebih berguna bila kita bekerja dimana kita memiliki minat dan bakat. Inilah alasan saya berikutnya kenapa saya sangat ingin memasuki Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, saya ingin mengembangkan minat dan bakat yang telah saya miliki, agar nantinya saya dapat tumbuh menjadi salah satu pembangun bangsa dan berguna bagi sesama.
Masuk IPS
Saat naik kelas 2 SMA, saya mengambil keputusan yang mengagetkan orang tua saya. Saya memilih untuk masuk kelas IPS. Keputusan saya ini ditentang kedua orang tua saya yang memiliki latar belakang IPA. Ditambah lagi di daerah saya, kelas IPS memiliki citra yang buruk dan tidak memiliki prestise. Tapi pilihan saya ini, bukanlah pilihan yang tanpa dasar. Saya mengerti di bidang apa saya mampu, selain itu, saya juga sudah benar benar tidak mau masuk ke jurusan dan sekolah lain selain Hubungan Internasional Universitas Indonesia, dan menurut saya peluang saya akan semakin besar jika saya memasuki kelas IPS. Akhirnya ibu saya mengizinkan saya untuk memasuki kelas IPS setelah saya berjanji saya akan berprestasi dan tidak akan mencontek lagi. Sejak saat inilah perjuangan saya untuk memasuki Universitas Indonesia saya mulai.
Kebiasaan Menyontek
Di daerah saya, mencontek hampir menjadi sebuah kebudayaan. Ditambah peraturan sekolah yang tidak benar – benar ditegakkan membuat budaya ini semakin mengakar di setiap sekolah. Jadi, keputusan saya untuk tidak mencontek lagi kadang terasa sangat berat. Saya kadang merasa sangat sedih ketika saya harus belajar hingga larut malam untuk sebuah mata ujian sementara teman – teman saya tidak belajar sama sekali namun bisa mendapatkan nilai yang hampir sama dengan saya dengan cara mencontek dan membuka buku saat ulangan. Kadang saya ingin kembali mencontek sedikit saja, tapi setiap niat itu muncul, saya mengingat kembali kenapa saya tidak boleh mencontek. Dan saya juga selalu percaya bahwa tidak ada usaha yang sia – sia, saya percaya bahwa Tuhan melihat saya berusaha, dan Ia Maha Adil terhadap semua keputusanNya. Tuhan bahkan berjanji untuk merubah nasib hambaNya bila ia mau berusaha. Setiap ulangan semester, saya mungkin hanya tidur selama 3 jam karena saya sangat ingin mendapatkan ranking 1 agar mempermudah jalan saya agar dapat diterima di Universitas Indonesia.
Kelas XII SMA
Tapi semuanya semakin berat ketika saya kelas 3 SMA, kakak saya memasuki bangku kuliah. Tanggungan ekonomi keluarga saya semakin berat, sementara kondisi ekonomi keluarga saya tidak mengalami banyak perubahan. Walaupun tanpa diminta orang tua saya, saya ingin meringankan beban ekonomi mereka. Saya memutuskan untuk bekerja dengan memberikan kursus pada anak – anak SD. Uang yang saya dapat, saya gunakan untuk membeli buku dan perlengkapan sekolah untuk mendukung belajar saya agar dapat diterima di Universitas Indonesia, dan sisanya saya pinjamkan untuk ibu saya.
Saya bekerja 2 kali sehari pukul 14.30 sampai pukul 16.00 dan pukul 19.00 sampai pukul 20.30. Otomatis waktu belajar saya berkurang. Demi untuk mempertahankan nilai saya agar dapat diterima di UI melalui jalur undangan, saya belajar hingga larut malam menggunakan sisa tenaga saya setelah bekerja. Saya sering kurang tidur hingga saat di kelas saya sering tertidur dan membuat guru saya marah kepada saya.
Menyontek (masih)
Ketika melihat teman – teman saya yang masih dengan kebiasaan menconteknya, saya semakin sedih. Saya takut tidak dapat meraih rangking satu lagi karena durasi saya belajar berkurang dan belajar saya tidak  dapat maksimal. Saya juga takut jika ini dapat memberikan efek buruk pada nilai saya yang digunakan sebagai pertimbangan saat SNMPTN Undangan nanti. Saat itulah saya merasa, saya tidak boleh membiarkan kebudayaan ini terus berlangsung. Jika semua ini terus berlangsung, bagaimana dengan anak – anak lain di Indonesia yang mengalami hal yang sama seperti saya. Mereka bisa jatuh hanya karena kebiasaan buruk ini, karena saya sendiri, saya merasa tertekan setiap teman saya yang mencontek saya meraih nilai yang lebih tinggi daripada saya dengan cara yang lebih mudah dari yang saya lalui, mencontek.  Selain itu, berdasarkan yang saya amati, budaya mencontek dapat menumbuhkan generasi pemalas. Untuk merubah kebiasaan mencontek ini, tentu saja tidap cukup dengan himbauan karena saya mengerti bahwa masalah ini hanyalah efek samping dari sebuah sistem yang menurut pandangan saya salah, atau saya biasa menyebutnya dengan kesalahan yang tersistem.
Idealisme 
Hal ini membuat keinginan saya untuk masuk Universitas Indonesia semakin kuat. Karena saya merasa bahwa jika saya dapat diterima disana, gerbang masa depan saya terbuka dan peluang sukses saya semakin besar. Dan entah dengan apa yang saya miliki di masa depan saya nanti, kesuksesan saya, ingin saya gunakan untuk memperbaiki hal – hal yang menurut saya salah di negara Indonesia ini.  Tentu saja hal ini bukanlah hal yang sepele dan mudah, tapi setidaknya saya harus berusaha.
SNMPTN Undangan
Namun saat pengumuman mengenai SNMPTN Undangan turun, banyak yang menentang pilihan saya untuk memilih Hubungan Internasional di UI. Mereka berkata bahwa saya terlalu idealis tanpa memperhatikan realita sulitnya untuk diterima disana. Saya sempat merasa ragu juga dengan pilihan saya, tapi saya sudah berusaha sekuat tenaga dan saya tidak bisa membiarkan usaha saya ini sia-sia. Biarlah mereka berkata apa, toh idealitas saya yang mungkin memang terlampau tinggi ini sudah saya imbangi dengan realitas usaha yang tidak sedikit. Biarlah usaha saya selama ini dan keyakinan saya akan keadilan Tuhan menjadi modal saya.
Ujian Nasional
Tanggal 16 hingga 19 April 2012 terasa berjalan begitu lama bagi saya karena hari tersebut merupakan hari yang (dianggap) menentukan keberhasilan proses yang saya jalani selama 3 tahun duduk di SMA ini. setiap hari saya menghabiskan sekitar 3 gelas kopi agar dapat berkonsentrasi saat belajar karena saya mengurangi jam tidur saya. bahkan saat ujian nasional berlangsung saya sengaja membawa kopi agar tidak tertidur saat ujian. saya masih ingat dengan jelas di ruang ujian saya sangat sulit untuk menyontek karena di ruangan kami hanya terdapat 12 peserta. walaupun begitu, bukannya sedih, saya bersyukur. karena saya masih tetap berpegang pada idealisme saya bahwa saya tidak akan menyontek. walaupun pada akhirnya dengan sedikit terpaksa saya harus memberikan contekan pada teman saya. dan saat saya menceritakan itu pada orang tua saya, tentu saja mereka marah pada saya. mereka kecewa karena saya telah tidak jujur. walaupun saya tidak menyontek, memberikan contekan pada teman juga ketidakjujuran bukan ? tapi segala puji bagi Allah, saya bisa melewati 4 hari itu dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti
26 Mei 2012
Hari ini mungkin merupakan salah satu hari paling bahagia dalam hidup saya. pagi itu saya hanya berpikir "yasudah, apapun yang saya dapatkan, itu adalah hasil usaha saya dan juga terjadi dengan izin Allah. baik lulus maupun tidak, semuanya bukan akhir dari hidup saya". saya datang ke sekolah dengan dandanan ala kadarnya. berbeda dengan teman saya yang mungkin sekitar 90% pergi ke salon untuk menghadiri acara tersebut, saya memakai kebaya pinjaman dari tante saya dan didandani tante saya sendiri dengan alat make up pinjam dari tetangga nenek saya. tiba di sekolah ada juga yang langsung tanya, "Ma, nggak ke salon ?" tapi kemudian ada yang menghapiri dan berkata , "Rahma, selamat ya". Setelah itu saya diberi tahu terlebih dahulu bahwa saya mendapatkan nilai tertinggi pada ujian nasional. puji syukur yang sangat besar dan kebahagiaan yang amat sangat saya rasakan pada saat itu. kebahagiaan karena telah memberikan kesempatan ayah saya berdiri bangga disamping orang - orang yang berkuasa di kota saya saat itu. juga kebahagiaan ketika membuat ibu saya menangis memeluk saya mengucapkan selamat pada saya. siangnya, saya mendapat berita bahwa SNMPTN Undangan akan diumumkan pada hari itu juga. hati saya yang saat itu sangat bahagia mulai merasakan kegugupan akan hasil yang saya dapat. tapi sekali lagi saya meyakinkan diri bahwa apa saja yang akan saya dapatkan itu adalah hasil usaha saya dan pemberian Allah pada diri saya, jika belum diterima saya harus memperbaiki usaha saya, bila diterima, itu sepenuhnya karunia Allah pada saya.
Pengumuman SNMPTN Undangan
Saat pengumuman hasil seleksi undangan diumumkan, tentu saja saya sangat bersyukur karena akhirnya usaha saya selama ini tidak sia – sia. Saya diterima di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, sesuai apa yang saya minatkan sejak saya SMP, meskipun dulu hanya bermula dari alasan seorang remaja yang labil hingga akhirnya berubah menjadi alasan yang bagi saya saat ini cukup besar. Inilah bukti dari kerja keras dan keyakinan saya selama ini. Keyakinan bahwa Tuhan melihat saya berusaha dan Ia tak akan mensia – siakan hambaNya. Sungguh kebahagiaan dan rasa syukur teramat dalam saya rasakan saat itu.
Idealisme sesudahnya
Tapi, dengan diterimanya saya di Universitas Indonesia, saya sangat menyadari bahwa ini bukanlah akhir dari usaha saya. Saya memiliki tujuan yang lebih besar lagi saat ini, saya ingin berkontribusi dalam pembangunan Indonesia, membangun masyarakat Indonesia agar dapat lebih mulia. Diterima di Universitas Indonesia, bagi saya bukanlah sekadar kebanggaan dan prestise belaka. Universitas Indonesia adalah awal perjuangan saya. Disini saya akan berjuang untuk mewujudkan mimpi saya untuk Indonesia yang lebih baik, di Kampus Perjuangan.
-side story-
saya mengetahui sepenuhnya ini semua merupakan karunia Allah pada saya. dan saya juga menyadari bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari hidup saya karena hidup saya masih terus berlanjut dan masih banyak tantangan yang harus saya hadapi. dan keberhasilan saya di masa depan juga bergantung pada proses yang saya lewati berikutnya. tapi mungkin hasil ini dapat membukakan pintu pada kesempatan - kesempatan untuk mencapai pencapaian berikutnya di masa depan saya. semangat ! Allah menyayangi kita dan orang - orang yang menyayangi kita menunggu kabar bahagia dari kita :)

salam.
Rahma 









change.coward.flowers that bloom when shaken.


Well you see through me after reading my last post , don’t you ?
I wanna tell something. I have changed. I am not that person anymore. I don’t know since when it started. I started to feel nervous when I was gonna talk in public. And I started to doubt myself more. Am I right ? what if I do something embarassing ? so in the end, I choose to listen instead of talking and offering my opinion. I know this comfort me but I also know, this isn’t right. What I’m gonna be if I am still like this ? still, it is hard for me to stand as powerful and idealist as before. I am being more realist. That’s good, but I am in the nerve of too much of a realist that now I am even afraid of dreaming as I doubt myself, those imagination would only hurt you, you don’t like hurting yourself, I say.  Sometime I even get the tought how about just being someone meddle in the crowd, just be so so. That would be easy and peaceful, no obstacle no challenge no tiresome. Nut I know that goes aginst myself. And today I also got a wise phrase
“If you want to get easier life then lower your expectation. Unfortunately an easier life doesn’t necessarily mean a happier life” – Iman Usman
Also..Little by little, I lose my confidence. Because of that, I can’t be independence, because I don’t believe in myself that I can. So I keep asking. But is that bothering you all ? I ask this to you, anyone whom I keep bothering.
Well, I don’t like myself being like this. But I don’t know how to change .. or I just won’t.. my biggest weakness is I am a person that afraid of too much thing and I am also talking too much..
I keep doubting, mocking, but I do nothing. That sucks, because that is what a coward do and exactly I don’t want to be one.
And of course, I’ll try to change. I’ll keep trying. Little by little, bit by bit.
And sorry for doing it little by little, bit by bit.
“Where is the flower that blooms without shaking?
Any of the beautiful flowers of this world
all bloom while being shaken
They shake on stems that grow upright
Where is the love that goes without shaking?
Where is the flower that blooms without being soaked?
Any of the shining flowers of this world
bloom as they are soaked
Soaked by wind and rain, petals bloom warmly
Where is the life that goes without being soaked? “
“Flowers That Bloom When Shaken” by Do Jong-hwan.
Wish can be that kind of flower :’)