Wednesday, January 16, 2013

Apple on the tree


“Girls are like apple on trees.
The best ones are at the top of the tree.
The boys don’t want to reach for the good ones because they are afraid of falling and getting hurt.
Instead, they just get the rotten apples from the ground that aren’t as good, but easy.
So the apples at the top think something is wrong with them
When in reality, they are amazing
They just have to wait for the right boy to come along
The whos brave enaugh to climb all the way
To the top of tree .”

I believe that once. When I was SMP. When I was still drown in my utopianic world of dramas. The time when I thought that something in the movie did happen in reality, including mine.

I am now almost 18. I have been studying in a college. I am much grown up. And I am not naive anymore. I just know.. World desn’t work that way.

 There must still be something wrong with those apple at the top of the trees. Who knows what is that ? you guess.

Wednesday, January 9, 2013

cerita

cerita yang saya tulis disini sebenarnya adalah tugas ospek saya ketika saya pertama kali memasuki dunia perkuliahan. saya tidak tau apakah isi dari yang saya tulis pada tugas saya itu akan bermanfaat, tapi saya berharap saya dapat berbagi pengalaman dan idealisme yang saya miliki pada siapa saja. setidaknya, inilah yang saya tulis ketika mereka meminta saya untuk menceritakan kisah hidup saya
Saya

Saya Rahma Lestari Anggraini. Saya terlahir tanggal 25 Januari 1995 di tengah keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Masa kecil yang saya lalui mungkin bisa dikatakan sempurna, karena kesempurnaan di mata saya saat itu hanya memiliki makna yang sempit. Bila saya mendapatkan apa yang saya inginkan, saat itu bagi saya, itulah sempurna. Tumbuh dengan kondisi seperti itu membuat saya menjadi anak yang manja dan materialistis.
Masa SMP
Tapi kehidupan keluarga saya berubah total pada saat perusahaan tempat ayah saya bekerja mengalami kebangkrutan. Saat itu, tepatnya tahun 2006, ketika saya mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama. Berbeda dengan sebelumnya, saya tidak bisa mendapatkan semua yang saya inginkan, bahkan untuk membeli sekadar baju atau buku, kadang kami tidak memiliki uang untuk itu. Teman – teman di sekolah saya yang notabene kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas, sering memandang rendah saya karena saya bukan anak yang memiliki paras cantik yah bisa dibilang saya jelek, ditambah lagi saya juga tidak memiliki kemampuan untuk membeli barang barang bermerk seperti  yang mereka miliki. Karena saya memiliki latar belakang materialistis, saya mengerti kenapa mereka merendahkan saya. Karena saat saya masih SD dulu, saya juga sering menilai orang dengan kriteria fisik belaka. Perlahan saya mulai merasa rendah diri, walaupun saya tidak pernah menampakkannya di depan teman – teman saya. Ketika ada teman saya yang merendahkan saya secara frontal , barulah saya merasa, saya tidak boleh rendah diri, saya harus membuktikan bahwa saya memiliki nilai dan kelebihan saya. Saya harus membalas cemoohan mereka dengan bukti yang nyata, prestasi.
Tepat saat itu, sepupu saya bercerita pada saya tentang kegagalannya dalam tes memasuki universitas. Jurusan dan universitas yang ia inginkan saat itu adalah Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Ia bercerita kepada saya alasan ia ingin memasuki jurusan dan universitas tersebut dan betapa sulitnya untuk meraihnya. Tanpa sadar, telah tertanam dalam otak saya, bahwa berhasil memasuki jurusan dan sekolah tersebut dapat membuktikan bahwa saya juga masih beharga. Kebetulan saya juga memiliki kemampuan yang lebih di bahasa asing, tapi sejak itu, saya lebih serius dalam mempelajari bahasa asing.
Awal SMA 
Ketika saya mulai memasuki bangku SMA, saya terpisah dari teman –teman SMP saya. Saya mulai merasa, apa gunanya saya kalau saya melanjutkan hidup saya hanya untuk membuktikan kepada mereka, yang hanya bisa mencemooh saya. Saya mulai mencari kenapa saya harus hidup. Saya merasa bahwa hidup saya harus berarti. Saya tidak lagi ingin membuktikan atau membalas cemoohan teman SMP saya, saya hanya ingin menjadi orang baik. Menjadi orang baik mengharuskan saya untuk menjadi berguna bagi sesama, karena sesuai ajaran agama saya, Rasulullah pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dan tentu saja , kita akan lebih berguna bila kita bekerja dimana kita memiliki minat dan bakat. Inilah alasan saya berikutnya kenapa saya sangat ingin memasuki Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, saya ingin mengembangkan minat dan bakat yang telah saya miliki, agar nantinya saya dapat tumbuh menjadi salah satu pembangun bangsa dan berguna bagi sesama.
Masuk IPS
Saat naik kelas 2 SMA, saya mengambil keputusan yang mengagetkan orang tua saya. Saya memilih untuk masuk kelas IPS. Keputusan saya ini ditentang kedua orang tua saya yang memiliki latar belakang IPA. Ditambah lagi di daerah saya, kelas IPS memiliki citra yang buruk dan tidak memiliki prestise. Tapi pilihan saya ini, bukanlah pilihan yang tanpa dasar. Saya mengerti di bidang apa saya mampu, selain itu, saya juga sudah benar benar tidak mau masuk ke jurusan dan sekolah lain selain Hubungan Internasional Universitas Indonesia, dan menurut saya peluang saya akan semakin besar jika saya memasuki kelas IPS. Akhirnya ibu saya mengizinkan saya untuk memasuki kelas IPS setelah saya berjanji saya akan berprestasi dan tidak akan mencontek lagi. Sejak saat inilah perjuangan saya untuk memasuki Universitas Indonesia saya mulai.
Kebiasaan Menyontek
Di daerah saya, mencontek hampir menjadi sebuah kebudayaan. Ditambah peraturan sekolah yang tidak benar – benar ditegakkan membuat budaya ini semakin mengakar di setiap sekolah. Jadi, keputusan saya untuk tidak mencontek lagi kadang terasa sangat berat. Saya kadang merasa sangat sedih ketika saya harus belajar hingga larut malam untuk sebuah mata ujian sementara teman – teman saya tidak belajar sama sekali namun bisa mendapatkan nilai yang hampir sama dengan saya dengan cara mencontek dan membuka buku saat ulangan. Kadang saya ingin kembali mencontek sedikit saja, tapi setiap niat itu muncul, saya mengingat kembali kenapa saya tidak boleh mencontek. Dan saya juga selalu percaya bahwa tidak ada usaha yang sia – sia, saya percaya bahwa Tuhan melihat saya berusaha, dan Ia Maha Adil terhadap semua keputusanNya. Tuhan bahkan berjanji untuk merubah nasib hambaNya bila ia mau berusaha. Setiap ulangan semester, saya mungkin hanya tidur selama 3 jam karena saya sangat ingin mendapatkan ranking 1 agar mempermudah jalan saya agar dapat diterima di Universitas Indonesia.
Kelas XII SMA
Tapi semuanya semakin berat ketika saya kelas 3 SMA, kakak saya memasuki bangku kuliah. Tanggungan ekonomi keluarga saya semakin berat, sementara kondisi ekonomi keluarga saya tidak mengalami banyak perubahan. Walaupun tanpa diminta orang tua saya, saya ingin meringankan beban ekonomi mereka. Saya memutuskan untuk bekerja dengan memberikan kursus pada anak – anak SD. Uang yang saya dapat, saya gunakan untuk membeli buku dan perlengkapan sekolah untuk mendukung belajar saya agar dapat diterima di Universitas Indonesia, dan sisanya saya pinjamkan untuk ibu saya.
Saya bekerja 2 kali sehari pukul 14.30 sampai pukul 16.00 dan pukul 19.00 sampai pukul 20.30. Otomatis waktu belajar saya berkurang. Demi untuk mempertahankan nilai saya agar dapat diterima di UI melalui jalur undangan, saya belajar hingga larut malam menggunakan sisa tenaga saya setelah bekerja. Saya sering kurang tidur hingga saat di kelas saya sering tertidur dan membuat guru saya marah kepada saya.
Menyontek (masih)
Ketika melihat teman – teman saya yang masih dengan kebiasaan menconteknya, saya semakin sedih. Saya takut tidak dapat meraih rangking satu lagi karena durasi saya belajar berkurang dan belajar saya tidak  dapat maksimal. Saya juga takut jika ini dapat memberikan efek buruk pada nilai saya yang digunakan sebagai pertimbangan saat SNMPTN Undangan nanti. Saat itulah saya merasa, saya tidak boleh membiarkan kebudayaan ini terus berlangsung. Jika semua ini terus berlangsung, bagaimana dengan anak – anak lain di Indonesia yang mengalami hal yang sama seperti saya. Mereka bisa jatuh hanya karena kebiasaan buruk ini, karena saya sendiri, saya merasa tertekan setiap teman saya yang mencontek saya meraih nilai yang lebih tinggi daripada saya dengan cara yang lebih mudah dari yang saya lalui, mencontek.  Selain itu, berdasarkan yang saya amati, budaya mencontek dapat menumbuhkan generasi pemalas. Untuk merubah kebiasaan mencontek ini, tentu saja tidap cukup dengan himbauan karena saya mengerti bahwa masalah ini hanyalah efek samping dari sebuah sistem yang menurut pandangan saya salah, atau saya biasa menyebutnya dengan kesalahan yang tersistem.
Idealisme 
Hal ini membuat keinginan saya untuk masuk Universitas Indonesia semakin kuat. Karena saya merasa bahwa jika saya dapat diterima disana, gerbang masa depan saya terbuka dan peluang sukses saya semakin besar. Dan entah dengan apa yang saya miliki di masa depan saya nanti, kesuksesan saya, ingin saya gunakan untuk memperbaiki hal – hal yang menurut saya salah di negara Indonesia ini.  Tentu saja hal ini bukanlah hal yang sepele dan mudah, tapi setidaknya saya harus berusaha.
SNMPTN Undangan
Namun saat pengumuman mengenai SNMPTN Undangan turun, banyak yang menentang pilihan saya untuk memilih Hubungan Internasional di UI. Mereka berkata bahwa saya terlalu idealis tanpa memperhatikan realita sulitnya untuk diterima disana. Saya sempat merasa ragu juga dengan pilihan saya, tapi saya sudah berusaha sekuat tenaga dan saya tidak bisa membiarkan usaha saya ini sia-sia. Biarlah mereka berkata apa, toh idealitas saya yang mungkin memang terlampau tinggi ini sudah saya imbangi dengan realitas usaha yang tidak sedikit. Biarlah usaha saya selama ini dan keyakinan saya akan keadilan Tuhan menjadi modal saya.
Ujian Nasional
Tanggal 16 hingga 19 April 2012 terasa berjalan begitu lama bagi saya karena hari tersebut merupakan hari yang (dianggap) menentukan keberhasilan proses yang saya jalani selama 3 tahun duduk di SMA ini. setiap hari saya menghabiskan sekitar 3 gelas kopi agar dapat berkonsentrasi saat belajar karena saya mengurangi jam tidur saya. bahkan saat ujian nasional berlangsung saya sengaja membawa kopi agar tidak tertidur saat ujian. saya masih ingat dengan jelas di ruang ujian saya sangat sulit untuk menyontek karena di ruangan kami hanya terdapat 12 peserta. walaupun begitu, bukannya sedih, saya bersyukur. karena saya masih tetap berpegang pada idealisme saya bahwa saya tidak akan menyontek. walaupun pada akhirnya dengan sedikit terpaksa saya harus memberikan contekan pada teman saya. dan saat saya menceritakan itu pada orang tua saya, tentu saja mereka marah pada saya. mereka kecewa karena saya telah tidak jujur. walaupun saya tidak menyontek, memberikan contekan pada teman juga ketidakjujuran bukan ? tapi segala puji bagi Allah, saya bisa melewati 4 hari itu dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti
26 Mei 2012
Hari ini mungkin merupakan salah satu hari paling bahagia dalam hidup saya. pagi itu saya hanya berpikir "yasudah, apapun yang saya dapatkan, itu adalah hasil usaha saya dan juga terjadi dengan izin Allah. baik lulus maupun tidak, semuanya bukan akhir dari hidup saya". saya datang ke sekolah dengan dandanan ala kadarnya. berbeda dengan teman saya yang mungkin sekitar 90% pergi ke salon untuk menghadiri acara tersebut, saya memakai kebaya pinjaman dari tante saya dan didandani tante saya sendiri dengan alat make up pinjam dari tetangga nenek saya. tiba di sekolah ada juga yang langsung tanya, "Ma, nggak ke salon ?" tapi kemudian ada yang menghapiri dan berkata , "Rahma, selamat ya". Setelah itu saya diberi tahu terlebih dahulu bahwa saya mendapatkan nilai tertinggi pada ujian nasional. puji syukur yang sangat besar dan kebahagiaan yang amat sangat saya rasakan pada saat itu. kebahagiaan karena telah memberikan kesempatan ayah saya berdiri bangga disamping orang - orang yang berkuasa di kota saya saat itu. juga kebahagiaan ketika membuat ibu saya menangis memeluk saya mengucapkan selamat pada saya. siangnya, saya mendapat berita bahwa SNMPTN Undangan akan diumumkan pada hari itu juga. hati saya yang saat itu sangat bahagia mulai merasakan kegugupan akan hasil yang saya dapat. tapi sekali lagi saya meyakinkan diri bahwa apa saja yang akan saya dapatkan itu adalah hasil usaha saya dan pemberian Allah pada diri saya, jika belum diterima saya harus memperbaiki usaha saya, bila diterima, itu sepenuhnya karunia Allah pada saya.
Pengumuman SNMPTN Undangan
Saat pengumuman hasil seleksi undangan diumumkan, tentu saja saya sangat bersyukur karena akhirnya usaha saya selama ini tidak sia – sia. Saya diterima di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, sesuai apa yang saya minatkan sejak saya SMP, meskipun dulu hanya bermula dari alasan seorang remaja yang labil hingga akhirnya berubah menjadi alasan yang bagi saya saat ini cukup besar. Inilah bukti dari kerja keras dan keyakinan saya selama ini. Keyakinan bahwa Tuhan melihat saya berusaha dan Ia tak akan mensia – siakan hambaNya. Sungguh kebahagiaan dan rasa syukur teramat dalam saya rasakan saat itu.
Idealisme sesudahnya
Tapi, dengan diterimanya saya di Universitas Indonesia, saya sangat menyadari bahwa ini bukanlah akhir dari usaha saya. Saya memiliki tujuan yang lebih besar lagi saat ini, saya ingin berkontribusi dalam pembangunan Indonesia, membangun masyarakat Indonesia agar dapat lebih mulia. Diterima di Universitas Indonesia, bagi saya bukanlah sekadar kebanggaan dan prestise belaka. Universitas Indonesia adalah awal perjuangan saya. Disini saya akan berjuang untuk mewujudkan mimpi saya untuk Indonesia yang lebih baik, di Kampus Perjuangan.
-side story-
saya mengetahui sepenuhnya ini semua merupakan karunia Allah pada saya. dan saya juga menyadari bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari hidup saya karena hidup saya masih terus berlanjut dan masih banyak tantangan yang harus saya hadapi. dan keberhasilan saya di masa depan juga bergantung pada proses yang saya lewati berikutnya. tapi mungkin hasil ini dapat membukakan pintu pada kesempatan - kesempatan untuk mencapai pencapaian berikutnya di masa depan saya. semangat ! Allah menyayangi kita dan orang - orang yang menyayangi kita menunggu kabar bahagia dari kita :)

salam.
Rahma 









change.coward.flowers that bloom when shaken.


Well you see through me after reading my last post , don’t you ?
I wanna tell something. I have changed. I am not that person anymore. I don’t know since when it started. I started to feel nervous when I was gonna talk in public. And I started to doubt myself more. Am I right ? what if I do something embarassing ? so in the end, I choose to listen instead of talking and offering my opinion. I know this comfort me but I also know, this isn’t right. What I’m gonna be if I am still like this ? still, it is hard for me to stand as powerful and idealist as before. I am being more realist. That’s good, but I am in the nerve of too much of a realist that now I am even afraid of dreaming as I doubt myself, those imagination would only hurt you, you don’t like hurting yourself, I say.  Sometime I even get the tought how about just being someone meddle in the crowd, just be so so. That would be easy and peaceful, no obstacle no challenge no tiresome. Nut I know that goes aginst myself. And today I also got a wise phrase
“If you want to get easier life then lower your expectation. Unfortunately an easier life doesn’t necessarily mean a happier life” – Iman Usman
Also..Little by little, I lose my confidence. Because of that, I can’t be independence, because I don’t believe in myself that I can. So I keep asking. But is that bothering you all ? I ask this to you, anyone whom I keep bothering.
Well, I don’t like myself being like this. But I don’t know how to change .. or I just won’t.. my biggest weakness is I am a person that afraid of too much thing and I am also talking too much..
I keep doubting, mocking, but I do nothing. That sucks, because that is what a coward do and exactly I don’t want to be one.
And of course, I’ll try to change. I’ll keep trying. Little by little, bit by bit.
And sorry for doing it little by little, bit by bit.
“Where is the flower that blooms without shaking?
Any of the beautiful flowers of this world
all bloom while being shaken
They shake on stems that grow upright
Where is the love that goes without shaking?
Where is the flower that blooms without being soaked?
Any of the shining flowers of this world
bloom as they are soaked
Soaked by wind and rain, petals bloom warmly
Where is the life that goes without being soaked? “
“Flowers That Bloom When Shaken” by Do Jong-hwan.
Wish can be that kind of flower :’)