Friday, March 29, 2013

do not let yourself be trapped


I think I’m going to write what I’m going to write. Of course, what else anyway.. okay but as always I’m going to give you some warnings before you read my writing. I think you need to know the fact that I am just a person with limited knowledge , science, and experience. So if you have any different thought with me, I am always open for discussion about it.
Dan bahasa yang akan gunakan ? oke seperti biasa campuran. Haha
Jadi ini sebenarnya adalah efek samping dari belajar MMI. Hha
Indonesia, Indonesia adalah bangsa yang besar, katanya. Peradaban di Indonesia yang pertama atau setidaknya yang bisa dibuktikan secara ilmiah sebagai yang pertama adalah peradaban di Kerajaan Kutai pada abad 5 yang dituliskan pada prasasti Yupa. Oke semua anak SD pasti juga tau itu. Kebesaran bangsa kita pada masa itu juga didukung dengan bukti bukti besarnya pemasaran rempah-rempah dari berbagai Kerajaan di Indonesia saat itu mulai dari kerajaan Samudra Pasai yang ada di ujung malaka hingga kerajaan ternate dan tidore yang ada di ujung timur di Indonesia. Indonesia juga memiliki 2 kerajaan nasionalnya yang hampir menguasai seluruh Indocina yaitu kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit. Karya besar peradaban masyarakat kala itu juga masih dapat kita nikmati hingga sekarang yaitu candi borobudur, prambanan, dll.
Lalu apa yang dapat kita ambil dari fakta dan cerita itu ?
Pencarian jati diri sebagai bangsa Indonesia! Mungkin inilah yang dimaksud Hall tentang identitas kultural sebagai sarana pencarian jati diri sejati. Karena fakta – fakta yang saya sampaikan diatas adalah peradaban yang ditemukan di Indonesia dan bila bisa disimpulkan dengan justifikasi logika bodoh, bahwa orang – orang dalam peradaban tersebut adalah orang yang bisa diakui sebagai masyarakat pribumi. Mungkin terlalu subjektif karena fakta yang saya sampaikan di atas terkesan hanya menampilkan kebaikan  dari peradaban tersebut saja, tapi setidaknya dari fakta baik – baik yang saya sampaikan di atas kita dapat menemukan kultur kerja keras, produktivitas, dan loyalitas. Karena bila kita pikir kembali, mungkinkah candi semegah candi borobudur akan terbangun tanpa kerja keras dari pekerja yang membangunnya, tanpa orang brilian yang memberikan grand designnya yang sampai sekarang belum tercatat namanya, dan tanpa pemerintah kerajaan yang mendukung tercapainya karya tersebut? Mungkinkah sriwijaya bisa menguasai Indocina tanpa loyalitas yang besar pada kerajaannya untuk rela berperang demi kebesaran kerajaannya dan tanpa usaha para pedagang dan ilmuwannya untuk menyebarkan seluruh pengaruhnya di indocina ? jawabannya tidak bukan ? meskipun perlu kita pikirkan kembali tentang paradoks the moral man and the immoral states yang ditulis Niebuhr bahwa altruism causes national egoism tapi mungkin hal yang bisa kita highlight disini adalah kerja keras dan loyalitas dari suatu penduduk terhadap hal yang mereka anggap sebagai tanah air mereka.
Tapi, semuanya berubah saat abad 15.. tepat dengan renaissance yang terjadi di Eropa dan tren imperialisasi yang mereka lakukan.. dan akhirnya membuat Indonesia sebagai  salah satu negara koloninya.. hingga terjadilah hibriditas yang dituliskan Robert Young dan mimicry yang dituliskan Bhabha di Indonesia. Seiring dengan pendudukan bangsa Belanda di Indonesia telah merubah konstruksi, sistem, struktur, stratifikasi sosial di Indonesia. Bangsa Belanda yang berhasil menduduki tingkat stratifikasi sosial tertinggi di Indonesia.. dan karena pemikiran manusia merupakan hasil sosialisasi yang terjadi selama hidupnya dan karena manusia memiliki naluri untuk memberikan penghargaan pada suatu hal dibanding hal lain kemudian ditambah lagi dengan kebutuhan dasar manusia tentang pemenuhan penghargaan dan penerimaan atas eksistensinya yang sering ditafsirkan dalam penghargaan oleh manusia lainnya.. timbullah logika sebagai berikut..
Premis 1 : Belanda adalah pihak yang menduduki strata sosial tertinggi yang mendapatkan penghargaan sosial, privilege, dan sosial yang tertinggi
Premis 2: Setiap manusia menginginkan sebuah penghargaan dan pengakuan atas eksistensinya
Kesimpulan : Setiap manusia (dalam konteks ini yang tinggal di Indonesia pada kala itu) ingin menjadi bagian dari Belanda atau setidaknya bersikap seperti Belanda agar mereka mendapatkan perlakuan yang sama
Okay, saya akui bahwa pemikiran di atas mungkin bisa dikatakan fallacy karena generalisasi terburu – buru yang kurang memperhatikan banyak fakta black swan, tapi saya setidaknya punya beberapa bukti yang memperkuat pernyataan saya di atas, yaitu terinternalisasi dan tersedimentasinya pengaruh budaya Belanda di Indonesia hingga berhasil menggeser nilai – nilai yang ada sebelumnya. Nilai – nilai yang ditularkan Belanda tersebut dituliskan oleh Mochtar Lubis yaitu
  Hipokrit/ Munafik
  Enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya
  Berjiwa feodal
  Percaya takhayul
  Artistik
  Berwatak lemah
Dan Koentjaranigrat
  Sifat mentalitas yang meremehkan mutu
  Sifat mentalitas yang suka menerabas
  Sifat tak percaya kepada diri sendiri
  Sifat tak berdisiplin murni
  Sifat mentalitas yang suka mengabaikantanggung jawab yang kokoh
Okay saya tidak akan menjelaskan alasan kenapa 2 tokoh sosiologi Indonesia tersebut memiliki pandangan tersebut mengenai sifat masyarakat di Indonesia yang  dipengaruhi oleh nilai Belanda selama masa penjajahan karena akan terlalu bertele – tele untuk tulisan ini. Tapi saya rasa siapapun pembaca tulisan ini anda boleh melakukan survey kecil – kecilan tentang pembuktian pendapat tersebut dan mungkin anda akan segera mendapatkan buktinya. Sifat – sifat tersebut dapat kita lihat pada kolonial Belanda dan mereka telah membuktikan bahwa sifat – sifat tersebut menghancurkan dengan bukti jatuhnya VOC pada tahun 1799 yang dikarenakan orang Belanda yang bertugas di Indonesia saat itu memiliki mentalitas seperti itu.
Masalahnya ? Masyarakat Indonesia sampai saat ini masih memiliki mental – mental tersebut karena nilai – nilai tersebut telah tersedimentasi dalam sistem nilai sosial dan kultural budaya Indonesia. Ingin bukti ? budaya korupsi, budaya menyontek, sifat konsumtif, instan, dan pemalas. Anda bisa melihatnya.
Okay. Tapi saya nggak akan berbicara lebih jauh tentang jelek – jeleknya Bangsa Indonesia saat ini. Karena bagi saya, yang paling penting adalah kita. Manusia – manusia yang sekarang hidup di Indonesia dan ngakunya berkewarganegaraan Indonesia. Bagi saya, maju atau tidaknya peradaban suatu negara ditentukan oleh orang – orang yang hidup di dalamnya. Meskipun kita hidup di negara yang sangat maju sekalipun tapi kalau manusia yang tinggal di dalamnya memiliki mentalitas seperti yang disebutkan Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis diatas maka nggak akan lama negara itu akan jatuh. Bukti ? Amerika Serikat mungkin bisa jadi bukti.  Okay tapi perlu kita akui bahwa sistem pasti berpengaruh tapi karena dalam konteks kita sebagai penuntut ilmu itu sendiri belum memberikan kita ruang untuk merubah sistem, maka hal yang mungkin bisa berikan saat ini adalah perubahan dalam diri kita sendiri.
Perubahan dalam diri kita yang ingin saya sampaikan disini dimulai dengan jangan mau jadi korban struktur sosial! Saya akui bahwa struktur sosial yang terwujud dalam nilai dan norma sosial tersebut memiliki perannya untuk menjaga ketertiban sosial . tapi ingat konteks yang saya bangun dalam pesan saya tadi adalah korban. Yang berarti mengindikasikan nilai sosial yang belum sesuai dengan kebenaran. Contohnya struktur sosial yang dapat membuat kita jadi korban sosial adalah korban dari anggapan bahwa menyontek adalah hal yang wajar yang nanti ketika kita memasuki dunia kerja akan berubah menjadi nilai yang menyatakan bahwa korupsi adalah hal yang wajar. Itu hanya salah satu contohnya. Yang penting adalah menjadi kritis terhadap nilai – nilai sosial yang ada di masyarakat sekarang dan berpeganglah pada kebenaran yang hakiki. Jangan berpegang pada kebenaran yang ada di masyarakat karena kebenaran yanng ada di masyarakat saat ini bisa saja berubah besok karena semua itu merupakan kontruksi sosial. Dimana kebenaran hakiki itu? Kalau anda belum menemukannya maka carilah, sedikit saran dari saya, agama yang anda peluk itu mungkin itulah kebenaran hakiki yang bisa anda percayai. Jadi karena saya adalah pemeluk agama islam maka patokan kebenaran yang saya miliki adalah nilai – nilai dalam agama islam itu sendiri. Kalau masih bingung mencari mungkin nilai – nilai yang ada di masyarakat Indonesia masa lampau bisa jadi salah satu contohnya, loyalitas, produktivitas, dan kerja keras. 3 hal tersebut masihlah langkah awal, tapi dengan internalisasi 3 nilai tersebut dalam pribadi anda adalah kontribusi pertama anda untuk memajukan Indonesia. Kita bisa melihat Cina yang memiliki jiwa produktivitas tinggi yang telah berhasil menguasai mayoritas perekonomian dunia saat ini.
Building and developing a country such Indonesia is not a matter that is gonna be finished in a day or night. It’s a long and complex process that need commitment in every aspect. If you know it has long way to go, why would you delay the journey for a later ?
When you’re a child you have to dream as high as the stars in the sky.
What happen when you we grow up ?
That is the hardest part. Because you have to hold tight on your dream and face the reality as well, but don’t let go of it. – Peter Pan-
JUST DON’T LET YOURSELF BE TRAPPED IN TODAY’S SOCIAL VALUE, BE CRITICAL AND FIND YOURSELF IN THE MIDDLE OF THE HECTICNESS OF TODAY’S SOCIETY.